Saya pertama kali mendengar bisnis pemasaran jaringan atau lebih terkenal dengan MLM ketika masih kuliah di Jogja. Ada sebuah perusahaan MLM yang cukup fenomenal, Amway, yang merangsek masuk ke kalangan mahasiswa Jogja saat itu. MLM itu benar-benar bisa memberikan bukti kesuksesan beberapa membernya. Saya sebagai salah satu mahasiswa saat itu juga tertarik ingin bergabung, tetapi sebagai mahasiswa pas-pasan keinginan itu tak pernah terwujud.
Sejak saat itu saya mulai menyadari bahwa kekuatan bisnis pemasaran jaringan ini luar biasa. Belakangan pemahaman saya tentang bisnis pemasaran jaringan ini bertambah lagi setelah saya membaca Business School tulisan Robert T. Kiyosaki. Ada delapan nilai tersembunyi dari bisnis pemasaran jaringan, selain memperoleh uang. Mulai dari pendidikannya, pindah kuadran, nilai investasi, menghidupkan impian, kekuatan jaringan, nilai yang menentukan realitas, sampai dengan nilai kepemimpinan. Yang lebih penting lagi, modal untuk memasuki dunia pemasaran jaringan tersebut rata-rata sangat terjangkau. Hal ini berbeda dengan apabila kita akan memulai bisnis sendiri atau akan bergabung dengan bisnis franchise (waralaba) yang mencapai puluhan bahkan ratusan juta.
Lama setelah masa kuliah itu saya tidak lagi memperhatikan bisnis MLM. Ketika saya sudah bekerja sebagai guru dan memperoleh pendapatan tetap setiap bulan kembali ada tawaran bisnis MLM. Saya bergabung karena biaya pendaftarannya lumayan terjangkau, kurang dari seratus ribu dan masa keanggotaannya berlaku seumur hidup. Tapi saya tidak berhasil mengembangkan bisnis itu karena belanja minimalnya sampai bilangan juta. Selain itu, kegagalan itu mungkin karena bisnis itu saya jalankan secara manual dengan menawarkan kepada teman-teman dekat saja. Ketika teman dekat habis dan tidak ada yang join, berhentilah saya.
Tapi sebenarnya keyakinan saya akan kekuatan jaringan untuk menjalankan bisnis tak pernah hilang. Banyak bisnis sukses yang menasional atau bahkan mendunia semuanya berhasil karena kuatnya jaringan atau karena berhasilnya pengembangan network. Jadi, meskipun saya gagal, saya tetap meyakini kekuatan jaringan/ network.
Belajar dari kegagalan saya tersebut dan mengamati beberapa MLM yang timbul tenggelam di sekitar saya, akhirnya saya berkeinginan mencari dan bergabung dengan MLM yang sesuai kriteria saya.
MLM itu harus murah dan masa keanggotaannya lama atau kalau bisa berlaku seumur hidup.
MLM itu harus mempunyai produk yang bermanfaat sehingga memungkinkan terjadinya repeat order.
Produk yang dipasarkan tidak perlu terlalu banyak karena saya akan kesulitan menguasai berbagai produk tersebut dan tidak fokus.
MLM tersebut harus sudah didukung oleh sistem IT yang bagus sehingga para distributornya bisa menjalankan bisnis jaringan tersebut baik secara online maupun offline.